Jakarta — Komitmen menjaga keamanan dan ketertiban yang disampaikan Komunitas Pecinta Sepak Bola mencerminkan menguatnya kesadaran suporter terhadap pentingnya stabilitas keamanan dalam penyelenggaraan sepak bola nasional. Di tengah rekam jejak insiden kerusuhan yang kerap menyertai pertandingan, pernyataan ini menjadi sinyal adanya pergeseran peran suporter dari potensi kerawanan menjadi bagian dari solusi kamtibmas.
Perwakilan Komunitas Pecinta Sepak Bola, Aditia, menegaskan bahwa komunitasnya menolak segala bentuk provokasi dan tindakan anarkis yang dapat memicu gangguan keamanan.
“Kami menyampaikan komitmen untuk selalu menjaga keamanan, ketertiban, dan suasana damai dalam setiap kegiatan sepak bola. Kami menolak segala bentuk provokasi keributan dan tindakan anarkis yang dapat merugikan masyarakat serta mencoreng citra sepak bola,” ujar Aditia, saat diwawancara, di Jakarta, Rabu (24/12/2025)
Dalam perspektif keamanan nasional, pernyataan tersebut menempatkan komunitas suporter sebagai aktor sosial yang memiliki peran strategis. Dukungan terhadap Polri dan pemerintah menunjukkan terbukanya ruang kolaborasi dalam pengelolaan massa dan mitigasi konflik, khususnya pada pertandingan berisiko tinggi yang melibatkan rivalitas antarsuporter.
Aditia juga menekankan kesiapan komunitasnya untuk bersinergi dengan aparat dan pemangku kepentingan terkait.
“Kami siap mendukung Polri, pemerintah, dan seluruh pihak terkait agar kegiatan sepak bola dapat berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif,” katanya.
Namun demikian, tantangan kamtibmas dalam sepak bola tidak hanya berada pada aspek pengamanan fisik. Provokasi berbasis media sosial, lemahnya penegakan disiplin, serta manajemen pertandingan yang kurang profesional masih menjadi faktor pemicu konflik. Tanpa pendekatan preventif yang komprehensif, potensi gangguan keamanan akan terus berulang meskipun komitmen normatif telah disampaikan.
Penegasan bahwa sepak bola merupakan sarana persatuan juga memiliki dimensi sosial-politik yang penting.
“Sebagai komunitas pecinta sepak bola, kami menegaskan bahwa sepak bola adalah sarana persatuan, bukan perpecahan,” tegas Aditia.
Pernyataan ini menempatkan sepak bola dalam kerangka ketahanan sosial, di mana olahraga berfungsi sebagai medium integrasi masyarakat. Ke depan, konsistensi antara pernyataan dan praktik di lapangan akan menjadi tolok ukur utama. Tanpa implementasi konkret, komitmen berisiko berhenti sebagai wacana. Namun bila dijalankan secara berkelanjutan, keterlibatan aktif komunitas suporter berpotensi menjadi pilar penting dalam menjaga stabilitas kamtibmas dan martabat sepak bola nasional.









