djourno.id—Senja menelusup pelan di Alun-alun Keraton Solo, tempat anak-anak berlarian, dan para lansia duduk bercengkerama di bawah pohon beringin. Taman yang dulunya gersang, kini ramai setiap sore.
Namun di tengah denyut kehidupan kota yang terasa hangat ini, ada kegelisahan yang terpendam: “Kota ini memang nyaman, tapi kenapa rasanya seperti jalan di tempat?”
Survei Litbang Kompas mencatat paradoks menarik. Di satu sisi, tiga dari empat warga Surakarta puas terhadap kepemimpinan Wali Kota Respati Adi dan Wakil Wali Kota Astrid Widayani.
Namun, 28,9% responden juga menilai pembangunan kota stagnan—dan 8% menyatakan malah menurun.
Bagaimana mungkin sebuah kota dinilai sukses dalam banyak aspek pelayanan, tapi tetap dianggap tak berkembang?
Jawabannya tersembunyi dalam jalinan angka, kisah, dan ekspektasi yang makin tinggi.
Tingginya Kepuasan dan Rasa Dekat
Dalam waktu kurang dari enam bulan sejak dilantik pada 20 Februari 2025, pasangan Respati–Astrid sudah mengukir citra positif di mata publik.
Menurut survei, 75,4% warga Solo puas terhadap kinerja pemerintah, dengan apresiasi tertinggi pada program kesehatan: Posyandu Plus dan Puskesmas Plus (89,1%).
Inovasi dalam layanan dasar ini bukan hanya klinik, tapi juga pusat konseling, bantuan sosial, hingga forum penyampaian aspirasi.
Semuanya dikemas dalam jargon “PASTI Sehat,” mencerminkan ambisi agar layanan kesehatan tak lagi sekadar pengobatan, tapi transformasi sosial.
Begitu pula dengan PASTI Pintar, yang tak hanya menyasar sekolah, tapi menjadi semacam “one stop service” untuk beasiswa, pelatihan guru, dan kurikulum berbasis teknologi. Sebanyak 77,3% warga puas dengan sektor pendidikan.
Capaian lain juga tak kalah mengesankan:
- Ruang publik: 81,9% puas
- Respons layanan publik: 76,6% puas
- Kepemimpinan wali kota: 72,4% puas
- Kepemimpinan wakil wali kota: 60,5% puas
Angka-angka ini berbicara: Respati dan Astrid berhasil membangun kepercayaan. Terutama di kalangan anak muda, dengan Gen Z mendominasi basis dukungan.
Namun seperti kata pepatah Jawa, “urip iku mung sawang sinawang”—hidup itu soal persepsi. Dan persepsi warga terhadap pembangunan kota, ternyata tak segemerlap angka-angka itu.
Kota dalam Diam
Mari menyoroti data yang mencuat tapi kerap terlupakan: 28,9% warga menilai pembangunan stagnan, dan 8% merasa malah menurun.
Jika digabung, artinya lebih dari satu dari empat warga merasa Surakarta tidak berubah atau malah mundur.
Survei ini menunjukkan kontras. Di satu sisi, mereka puas pada program yang dijalankan. Tapi saat ditanya soal arah kota, mereka menjawab pesimistis.
Kenapa?
“Layanan makin baik, tapi pembangunan kota besar ya masih gitu-gitu aja,” ujar Pak Harto, 54 tahun, warga Laweyan. “Gedung tinggi atau infrastruktur besar belum terasa. Ekonomi juga belum naik cepat.”
Ini bukan soal ketidakpuasan terhadap pelayanan, tapi kerinduan terhadap transformasi fisik dan ekonomi yang kasat mata. Jika Posyandu Plus berhasil menyentuh warga secara personal, perubahan wajah kota masih dianggap tertinggal.
Realita ini menunjukkan satu hal: pemerintah sukses menyentuh dimensi mikro (warga sebagai individu), tapi belum menanam kesan kuat dalam dimensi makro (kota sebagai entitas berkembang).
Astacita dan Jejak Gibran
Program-program Respati-Astrid dirancang berdasarkan “Astacita”—konsep kerja strategis yang mengadopsi visi Prabowo-Gibran. Dalam 100 hari pertama, tiga program utama sudah dijalankan:
- Posyandu Plus
- Rumah Siap Kerja (RSK)
- UMKM Center
Program ini meletakkan Solo dalam bingkai pembangunan nasional yang lebih luas. Tetapi justru karena itu pula, sebagian warga menganggap kota ini sedang menunggu instruksi pusat.
“Kesan saya, banyak program Solo itu kayak meniru pusat. Bagus sih, tapi kurang ada sentuhan lokal khas Solo,” kata Diah, mahasiswa UNS.
Pemerintah kota menghadapi tantangan klasik: antara menjadi “miniatur nasional” atau memperkuat karakter lokal. Surakarta memang punya warisan budaya besar, tapi juga sedang didorong menjadi kota modern. Di sinilah dilemanya—bagaimana menyeimbangkan nasionalisasi agenda dengan identitas lokal.
Apa Kata Kaum Muda?
Dukungan terbesar datang dari kelompok usia di bawah 28 tahun. Ini sejalan dengan strategi Respati yang membangun citra pemimpin muda yang responsif dan digital savvy, seperti kanal “Lapor Mas Wali” lewat WhatsApp.
Tapi ada risiko di balik euforia itu. Gen Z adalah generasi yang menuntut perubahan cepat dan konkret. Mereka bisa jatuh cinta pada pemimpin hari ini, dan berbalik kecewa esok hari jika tak melihat progres signifikan.
“Kami butuh kota yang bergerak cepat, ada coworking space di kampung, ruang kreativitas, festival tiap bulan,” ujar Reyhan, 23 tahun, relawan kreatif Respati-Astrid.
Tuntutan ini menandai bahwa tingkat ekspektasi jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Maka, stagnasi pembangunan bukan hanya soal proyek fisik, tapi soal kecepatan perubahan dibanding ekspektasi publik yang semakin membuncah.
Kepuasan Bukan Jaminan Aman
Angka kepuasan boleh tinggi, tapi apakah ini cukup untuk memastikan kepemimpinan Respati–Astrid tidak terguncang? Tidak selalu.
Data Litbang Kompas menunjukkan satu dari lima warga bahkan belum tahu program-program prioritas, dan 2 dari 10 responden tidak puas terhadap program utama.
Artinya, selain membangun program, tantangan terbesar mereka adalah: komunikasi publik. Tanpa narasi kuat dan konsistensi komunikasi, program inovatif pun bisa tenggelam dalam persepsi stagnan.
Kepemimpinan yang Dicintai, Tapi Harus Terbukti
Kota ini memang mencintai Respati dan Astrid. Tapi cinta, seperti halnya politik, adalah soal kepercayaan yang harus diperbarui setiap saat.
Saat taman kota makin hijau, Posyandu makin ramah, dan layanan makin cepat—warga masih berkata, “Tapi kami ingin lebih.” Bukan karena tak puas, melainkan karena mereka merasa Solo layak mendapat lebih.
Bagi Respati dan Astrid, tahun pertama ini adalah waktu emas. Mereka bukan hanya harus bekerja, tapi membuat kerja mereka terasa. Karena dalam demokrasi lokal, yang tak terasa, seakan-akan tidak ada.









